Senin, 01 Juli 2013
-Keesokan hari, Toko Buku-
Navis's side
Rak-rak buku yang tinggi menjulang, bau khas buku baru, suhu AC yang sejuk, entah kenapa aku selalu menyukai suasana seperti ini. Tidak berbeda jauh dari toko buku kebanyakan di negaraku, Indonesia.
Sudah hampir 2,5 jam aku disini, tenggelam dalam kepekatan rak buku yang bertebaran dimana-mana, melihat sampul, membuka epilog, tertarik, baca sebentar, lalu kembalikan lagi.
Permintaan #terakhir Narendra Sofyan masih terus ku ingat, "Ku mohon, jaga Soffi untukku". Itulah mengapa aku berada disini, di Paris, memenuhi janjiku kepadanya, sebagai ungkapan balas budi atas apa yang dulu pernah ia perjuangkan untuk kuliahku.
*4 tahun yang lalu, Universitas*
Aku terduduk sendiri di bangku depan ruang administrasi kampus. Tertunduk. Kebingungan membayangkan nasibku kelak. Aku baru saja di terima di universitas ini, resmi menjadi mahasiswa Sastra Perancis. Bahagia ? Tentu ! Tapi ada satu hal yang menggangguku. Uang gedung yang teramat mahal untuk mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan sepertiku ini membuatku harus memutar otak berkali-kali. Bagaimana dengan beasiswa ? Aku tak mendapatkannya, gagal. Aku sengaja tak memberi tahu Emak dan Abah di kampung karna takut mereka akan lebih kepikiran.
"Dek, kalau bingung mbayar uang administrasi. Mending datang saja ke posko advokasi BEM. Bisa dibantuin ngomong sama pihak universitas. Mbak dulu juga begitu, kok" tiba-tiba seorang wanita muda mendekatiku, seolah angin segar baru saja menerpaku. Setelah berterima kasih, menanyakan ini-itu, aku langsung menuju posko yang dimaksud.
Dan disinilah aku berkenalan dengan Narendra Soffyan. Anak hukum, angkatan 2 tahun lebih tua dariku, tapi tetap keukeuh enggan dipanggil "Mas/Kak/Bang" atau apalah yg lainnya. "Biar ngga ada Gap diantara kita" begitu ungkapnya.
Aku terkagum-kagum dengan caranya beradvokasi. Bungkam aku dibuatnya. Sejak saat itu aku berteman dekat dengan Naren, bahkan sudah seperti saudara sendiri hingga akhir hayatnya, ya setahun yang lalu, ia pergi. Sebelum sempat menemui wanita yang ia gadang-gadangkan menjadi pendamping hidupnya.
***
"Bonjour, Monsieur. Bukunya sudah ada ?" suara wanita itu muncul dari balik kasir.
"Ah, tentu saja sudah. Maaf membuatmu menunggu lama, Nona" petugas kasir itu lalu menyerahkan buku yang masih rapi bersampul plastik.
"Terimakasih" ujar wanita itu lagi, dan berlalu setelah memberikan sejumlah uang yang harus dibayarkan
Aku bergegas menghampiri petugas kasir itu, berbasa-basi
"Ehm, pardon monsieur. Wanita tadi, dia membbeli buku apa ?"
"Ah, maksudmu Soffi ? Dia membeli ini tadi" ia kemudian menyerahkan sebuah buku dengan sampul biru tua yang masih berplastik. Disana ada sebuah tulisan besar berwarna keperakkan. Sebuah buku psikologi tebal.
"Dia mahasiswi psikologi ?" tanyaku
"Ya, semester akhir. Sebentar lagi lulus. Dia kuliah di Imperial"
Aku tersenyum sendiri. Ternyata, aku dan dia berada pada satu kampus. Beda jurusan sih, tapi satu lingkungan yang sama, pasti cukup mudah untuk mnejaganya.
Naren, I got my promise !
Menit ke 01.45 lagu Tahu Diri ini makin terasa menyesakkan
"...Bye, selamat berpisah lagi.
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada disini.
Sungguh tak mudah bagiku, menghentikan sgala khayalan gila
Jika kau ada, dan ku cuma bisa, meradang menjadi yang disisimu"
Aku benar-benar menghayati lirik itu
Memang benar, aku masih enggan melepasmu
membayangkan 2 bulan ke depan tanpa hadirnya dirimu
Dirimu yang selalu ada di setiap aku menoleh, yang selalu ada jika mata ini ingin sekali menangkap bayangmu, hadirmu. Telinga ini yang selalu peka mendengar gelak tawamu, suara halusmu, bahkan hidung ini yang kerap sekali menangkap aromamu meski kau jauh.
Aku masih ingat malam tadi, Mas
Saat kita sama-sama berada dalam 3 rakaat shalat, dengan kau sebagai imamku
Lantunan ayat-ayat Qur'an makin terasa sejuk menghampiri telingaku
Aku merasa waktu itu kita ditempatkan dalam waktu dan tempat yang sama untuk berbincang denganNya, tanpa jarak.
Didekatkan bukan dengan ketercelaan, tapi dengan hati suci usai beribadah
Menunduk bersama, tapi entah apa yang kita bicarakan sama
Aku berusaha memintamu dariNya, memintaNya untuk menjagamu nanti
menjaga hatiku untukmu, membahagiakanmu meski aku tak tahu apakah bahagiamu dan bahagiaku itu satu definisi
Aku takut berpisah, sungguh
Aku ingin berlari menemuimu, dan memelukmu erat dan berkata
"Jangan pergi, ku mohon."
Memang benar aku ini pengecut, aku takut takut apapun yg berhubungan denganmu
Menuju keberangkatanmu petang ini, aku makin gelisah
Aku terus membayangkan akan seperti apa aku tanpamu
Ibarat pohon yang tumbuh kerdil karena kekurangan hormon tertentu
Jika aku pohon, kaulah hormon itu. Aku butuh kamu untuk sempurnakan pertumbuhanku
Bye, Coach
Entah 31 Agustus nanti atau akan lebih lama
Aku siap menunggu ceritamu
Langganan:
Postingan (Atom)





