Jumat, 15 November 2013

Baru kemarin ibu berkunjung ke tempat singgah saya selama merantau di kota ini. Rasanya sudah lama tidak melihat wajah beliau. Aaaaah, hari itu takkan kulewatkan.

Ibu berkirim pesan bahwa mungkin kedatangannya akan sedikit terlambat, memintaku sabar menunggu.

Saya meninggalkan rutinitas saya sebagai salah satu player di Marching Band. Teman-teman saya menghubungi, hendak bertanya kabar. Salah saya saat itu adalah tak menyempatkan diri berkabar kepada seorang teman. Saya kalut. Merekapun akhirnya mengerti.

Tiba saatnya ibu datang.

Membawakan sekardus besar sembako untuk bekal hidup saya beberapa waktu kedepan. Beras, olahan daging sapi kesukaan, buah-buahan dan uang untuk membayar listrik dan sisanya untuk tambahan uang saku.

Ibu bercerita bahwa selama ini ia bekerja keras mengumpulkan uang untuk masa depan saya. Ketahuilah ibu, saya tahu. Saya tahu juga itu pasti sangat berat bagimu, mengurus kami anakmu seorang diri tanpa bapak.

Ditambah lagi saat beliau bercerita betapa tertekannya beliau ketika harus menghadapi adik saya yang sedang nakal-nakalnya. Haaaaah, pedih.

Malam itu, ibu memutuskan menginap di kos, tidur dibawah, karena memang kasurnya hanya satu, dinginnya pasti, tapi ia mementingkan saya. Saat pagi menjelang, ibu naik ke tempat tidur, memeluk saya dengan hangat. Sejak kapan saya tak merasakan pelukan seperti ini ?

Ketika tiba saatnya pulang, ini semakin berat.

Sepanjang jalan memikirkan apakah ibu akan baik saja selama perjalanan ?

Kapan lagi saya akan bertemu beliau secara langsung ? Jalan bersama, menghabiskan waktu bersama ?

Hati saya berat, bernafaspun terasa bagai sputum memenuhi rongga nafas, matapun pedih, hingga berasa air berada diujung pelupuk.

Tapi satu yang pasti, doa ibu akan selalu terucap, kasih sayang akan terus ada, tinggal bagaimana saya membalasnya.

Membanggakan beliau atau justru membebani beliau dengan hal lainnya.

BIsmilah, ibu saya akan bahagiakan engkau.

 

Peluk, cium. Anakmu

Rabu, 06 November 2013

Kadang tak semua film terbaik Oscar itu kau sukai
Kadang tak semua pemenang MTV Award itu kau sukai
Kadang makanan mahal di cafe terkenal itu kau sukai
Terkadang, lelaki tampan nan rupawan itu juga kau sukai

Kau mencoba menyukai tiap hal darinya
Lelaki yang kau gadang-gadang bonafit denganmu
Kau terkadang melebihkan persepsi tentangnya
Menganggap segala perhatian, tatapan, status sosialmedia itu untukmu

Kau berlatih keras agar dia menyukaimu
Menghabiskan waktu lebih lama didepan cermin agar tampil memukau
Memakai parfum yang kau anggap akan membuatnya terpesona
Dan cemas apakah dia akan menyukai baju yang kau pakai hari ini

Ah, begitu bodohnya masa itu
Masa ketika kau begitu dia merajaimu
Dan kini, ketika tak ada lagi rasa untuknya karna trauma
Masihkah kau ingin bersikap seperti itu ?

Apakah kau akan tetap menyukai hal yang tak sadar malah menyakitimu ?

Selasa, 29 Oktober 2013

 

Teruntukmu lelaki paruh baya yang beberapa bulan terakhir ini singgah. Perlukah ku tegaskan betapa kau berarti ? Hingga akhirnya ku putuskan untuk ungkapkan rasa ? Dengan hati berdegup lebih kencang kala itu, sadarkah kau ? Tapi, kau hanya menjawab sekenamu, menganggap ini main-main. Ya, cinta gadis belum genap 18 tahun hanya main-main bagimu. Tak tahu, bahwa main-main itu sebenarnya adalah responmu kala itu.

 

Apa pula keadaan kali ini yang kau ciptakan ? Menganggapku seolah troublemaker, pengacau, cari perhatian. Sejatinya itu, kau ! kau tak tahu aku, begitu pula aku. Membiarkan pengikutmu menduga-duga siapa orang yang kau maksud dalam ocehanmu, lalu bersama-sama mencelanya. Kau lebih dari pengacau menurutku.

 

Harusnya aku menduganya lebih dulu ya, mas.

Betapa kode-kode yang kau ciptakan selama ini, kode-kode bias untuk membuatku jauh, menyebut “wanita lain” dalam setiap ocehanmu, mengagungkannya, semuanya, yang kukira semua itu adalah untukku. Tapi bukan.

 

Wanita itu, temanku.

Teman yang semula adalah tempatku bercerita, berbagi perasaan. Perasaan kepada siapa lagi kalau bukan perasaanku sama kamu ? Dengan bodoh aku mengira dia sosok teman sempurna tanpa cela, tempatku bebas bercerita tentangmu. Yang kini aku tak hbis pikir, dia ini teman macam apa ? Jibaaaaaaangggg –______-

 

Kalian cocok kok.

Yang satunya ngga pekaan, yang satunya tukang tusuk. Yah cocok sih kalo bikin usaha sate kambing. Sukses ya kalian, usaha satenya laris manis *ketjupmaho*

Kemana saya harus mencari definisi teman ? Perpustakaan kota ? Wikipedia ? Tolong bantu saya.

Tolong yang valid, sumbernya approval, diakui dunia, dari sisi medis,psikologis, sosial, ekonomi, budaya, bahasa. Duh kok ribet banget yaaa ? Begitulah, katanya memang kalo dapet informasi harus yang berkategori kayak gitu. Padahal kalo dalam ilmu saya, cukup pake “clinical expertise” aja cukup, itu kalo yang medis ya, kalo yang tadi saya tanyain mungkin ngga jauh beda.

 

Pernah denger peribahasa, “musuh dalam selimut” nggak ? #eh ini bukan tungau, kutu busuk, ulet, cicak, kelelawar atau bahkan binatang marsupial lain ya, guysOpen-mouthed smile

Jadi musuh dalam selimut punya makna yang sama kayak serigala berbulu domba. Intinya adalah bisa saja yang teman bukan teman, atau juga yang teman malah lawan. Udah dikasih percayaan, ditimang-timang, disayang, dibantuin, eh apa yang kalian dapet, ZONK !!!!

Maksudnya bukan pamrih yaa, bolehlah kita berharap dapet balesan yang baik kalo kita memberi yang baik. Inget, man yasro yahzud (Yang menanam, menuai) #tumbenbener

 

Kalau saya sih mikirnya gini aja, mungkin yang saya tanem itu bibit yang jelek banget, pupuknya taik basi, nyiramnya pake air keras, yah akhirnya ini yang didapetin. Tanaman ambigu sejenis gagal persilangan, hasil perawatan tidak adekuat.

 

Saran aja sih yaaa, Jangan sepenuhnya kasih kepercayaan sepenuhnya sama teman, kecuali dia yang baik dan benar bagimu, yang halalan toyyiban, yang cocok naik jabatan jadi sahabat. “Belum tentu yang baik bagimu itu baik, belum tentu juga yang buruk bagimu itu buruk” (al-Hadits). Sekian.

Jumat, 04 Oktober 2013

Aku tak mengerti kenapa kau begitu menyukai musim gugur. Kau selalu menghabiskan waktumu sepanjang sore, duduk di bangku taman kota, headset dikedua telinga dan sesekali menangkupkan tanganmu.

“Hai, Rivat” sapaku terhadapmu

“Oh hai, anneke. Tumben sekali disini” katamu lembut, sejenak menatapku lalu kembali memandang ke suatu arah disana.

“Cuma lewat, habis beli minyak goreng di toko Koh Anh”

Kau cuma mengangguk, sesekali tanganmu mengetuk-ngetuk sisi bangku taman itu. Aku ingin bicara lebih lama denganmu, tapi aku tak ingin mengganggu waktu berhargamu itu dengan beberapa patah kata yang sebenarnya hanya basa-basi.

“Riv, aku pulang dulu yaa. Udah ditunggu mamah dirumah. Bye”

Baru saja aku membalikan badan, kau berkata, “Anneke, bisa temani aku sebentar?”

Aku tak menjawab, memandangmu heran.

“Temani aku, disini. Duduk disampingku” kau menegaskan per frase kata yang kau ucapkan. Aku menyerah, aku duduk disebelahmu.

“Apakah kau berpikir aku ini bodoh ?” kau memulai percakapanmu

“Tidak, kenapa ?”

“Aku rasa aku ini bodoh, Ke. Bodoh. “

“Apa yang membuatmu berpikir kau ini bodoh ?”

“Aku terlalu sibuk memandang masa lalu dan buta terhadap masa depanku” Aku diam, tak mengerti ucapanmu

“ Anneke, apakah kau pikir aku tak tahu setiap musim gugur kau selalu mengintipku dari balik pohon mapple itu ? Apakah kau berpikir aku tak tahu betapa kau selalu tersenyum setelah bertemu denganku ? Sebenarnya aku tahu, semuanya.”

“Kenapa ?”

~to be continued

Rabu, 25 September 2013

Yesterday is your day, I guess. Selamat ulangtahun, sapaku dari ujung dunia entah sebelah mana. Hanya dalam hati, tak langsung terdengar olehmu.

Hingga akhirnya aku harus langsung melakukan gebrakan, aku kumpulkan tenaga, buang rasa gengsi dan mulai mengetik diatas keypad handphone. “Selamat ulangtahun, (kamu)” dan dengan gelisah menunggu sms, sesekali menatap handphone, berharap ada kau disana, mampir di kotak masukku.

“Makasih, ya” <--- singkat ? Memang ! Tapi tak sesingkat itu histeria yang kurasakan. Dan selanjutnya, aku mulai berani mengajakmu berbincang dengan beberapa kata sederhana.

Sekali lagi, selamat ulangtahun, pembahagiaku

happy_birthday_cake-2018

Selasa, 10 September 2013



Haii ! Tau kan kalo dalam sebuah marching band ada banyak bagian yang harus kamu ketahui untuk membentuk suatu harmoni. Marching band terdiri dari beberapa departemen, brass (alat tiup), percussion (alat pukul) dan the last Color Guard. Dalam brass sendiri ada banyak section, tapi paling common terdiri dari 3 sectional. High brass (Trumpet), Middle Brass (Mellophone) dan Low Brass (Baritone, Euphonium, Tuba). FYI, saya bagian dari High Brass loh sodara-sodara.
Kami menamakan diri kami sebagai Squad GPMB 2013 dan trumpet sendiri dibagi menjadi 3 golongan suara, trumpet 1, trumpet 2 dan trumpet 3. Dari lebih 10 anggota trumpet, cuman sekitar seperempatnya aja yang cowok, sisanya CEWEK hahaha
Para gadis trumpet ini ternyata cukup solid loooh, gals. Sering main bareng, rumpi, curhatan, waaaaah the superb friends overall ^^
Ini bukti kekompakan kami ^^



















Sekian~~

Minggu, 04 Agustus 2013

      Beberapa waktu lalu, dia datang. Lelaki pendiam ini telah berubah 180 derajat. Dengan kaos yang memperlihatkan cetakan perut buncitnya, jeans ngepress dan sepatu gegayaan. Perkenalkan, dia, Konsultan.
     
      Dia berdiri dengan gagahnya, bicara bla bla bla dan blaaah. Teknik ini, teknik itu, meniup trumpet seperti ini, sikap yang itu, aaah tak tahukah dia hal semacam itu yang membuatku menggila ?
Hari berganti hari, minggu berlalu secepat yang tak terpikiran. Aku merasa ada hal aneh yang belakangan ini menggangguku.

      Selesai latihan, dia selalu mengumpulkan kami semua, membuat forum melingkar. Berbagi masalah, candaan, dan tentu saja cerita horror spesialisasinyaa.

      Di forum kecil-kecilan itu, tahukah bahwa aku merasa kurang nyaman atas dirinya ?
Aku merasa tak terlihat olehnya, lebih banyak terdiam, dan hanya sesekali menimpali cerita atau guyonannya seadanya. Aku sering merasa berada pada jarak yang cukup jauh, hingga sinyal akan memuai dan tak tersampaikan.

      Kami dan perbedaan 10 tahun. Banyak bedanya, tentu saja sikapnya.
Tapi, dia masih bersinar walaupun mulai redup. Aku suka kedewasaannya, tapi aku tak suka ketika aku merasa terbedakan.

      Hanya karna kau pelatihku, tak pantaskah cintaku terbalaskan ?

      Hanya karna kau pelatihku, apakah tak pantas juga aku memandangmu seperti selama ini ?

      Mungkin juga, hanya karna kau pelatihku, haruskah aku berhenti mengagumi dan akhirnya merelakan perasaanku terbuang ?

Senin, 01 Juli 2013

-Keesokan hari, Toko Buku-


Navis's side
Rak-rak buku yang tinggi menjulang, bau khas buku baru, suhu AC yang sejuk, entah kenapa aku selalu menyukai suasana seperti ini. Tidak berbeda jauh dari toko buku kebanyakan di negaraku, Indonesia.
Sudah hampir 2,5 jam aku disini, tenggelam dalam kepekatan rak buku yang bertebaran dimana-mana, melihat sampul, membuka epilog, tertarik, baca sebentar, lalu kembalikan lagi.

Permintaan #terakhir Narendra Sofyan masih terus ku ingat, "Ku mohon, jaga Soffi untukku". Itulah mengapa aku berada disini, di Paris, memenuhi janjiku kepadanya, sebagai ungkapan balas budi atas apa yang dulu pernah ia perjuangkan untuk kuliahku.

*4 tahun yang lalu, Universitas*

Aku terduduk sendiri di bangku depan ruang administrasi kampus. Tertunduk. Kebingungan membayangkan nasibku kelak. Aku baru saja di terima di universitas ini, resmi menjadi mahasiswa Sastra Perancis. Bahagia ? Tentu ! Tapi ada satu hal yang menggangguku. Uang gedung yang teramat mahal untuk mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan sepertiku ini membuatku harus memutar otak berkali-kali. Bagaimana dengan beasiswa ? Aku tak mendapatkannya, gagal. Aku sengaja tak memberi tahu Emak dan Abah di kampung karna takut mereka akan lebih kepikiran.

"Dek, kalau bingung mbayar uang administrasi. Mending datang saja ke posko advokasi BEM. Bisa dibantuin ngomong sama pihak universitas. Mbak dulu juga begitu, kok" tiba-tiba seorang wanita muda mendekatiku, seolah angin segar baru saja menerpaku. Setelah berterima kasih, menanyakan ini-itu, aku langsung menuju posko yang dimaksud.

Dan disinilah aku berkenalan dengan Narendra Soffyan. Anak hukum, angkatan 2 tahun lebih tua dariku, tapi tetap keukeuh enggan dipanggil "Mas/Kak/Bang" atau apalah yg lainnya. "Biar ngga ada Gap diantara kita" begitu ungkapnya. 

Aku terkagum-kagum dengan caranya beradvokasi. Bungkam aku dibuatnya. Sejak saat itu aku berteman dekat dengan Naren, bahkan sudah seperti saudara sendiri hingga akhir hayatnya, ya setahun yang lalu, ia pergi. Sebelum sempat menemui wanita yang ia gadang-gadangkan menjadi pendamping hidupnya.
***
"Bonjour, Monsieur. Bukunya sudah ada ?" suara wanita itu muncul dari balik kasir. 
"Ah, tentu saja sudah. Maaf membuatmu menunggu lama, Nona" petugas kasir itu lalu menyerahkan buku yang masih rapi bersampul plastik.
"Terimakasih" ujar wanita itu lagi, dan berlalu setelah memberikan sejumlah uang yang harus dibayarkan

Aku bergegas menghampiri petugas kasir itu, berbasa-basi
"Ehm, pardon monsieur. Wanita tadi, dia membbeli buku apa ?"
"Ah, maksudmu Soffi ? Dia membeli ini tadi" ia kemudian menyerahkan sebuah buku dengan sampul biru tua yang masih berplastik. Disana ada sebuah tulisan besar berwarna keperakkan. Sebuah buku psikologi tebal.
"Dia mahasiswi psikologi ?" tanyaku
"Ya, semester akhir. Sebentar lagi lulus. Dia kuliah di Imperial"

Aku tersenyum sendiri. Ternyata, aku dan dia berada pada satu kampus. Beda jurusan sih, tapi satu lingkungan yang sama, pasti cukup mudah untuk mnejaganya.
Naren, I got my promise !

Melepasmu

Kini dengan ditemani sebuah lagu dari maudy ayunda aku berusaha tegar melepasmu
Menit ke 01.45 lagu Tahu Diri ini makin terasa menyesakkan
"...Bye, selamat berpisah lagi.
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada disini.
Sungguh tak mudah bagiku, menghentikan sgala khayalan gila
Jika kau ada, dan ku cuma bisa, meradang menjadi yang disisimu"
Aku benar-benar menghayati lirik itu
Memang benar, aku masih enggan melepasmu
membayangkan 2 bulan ke depan tanpa hadirnya dirimu
Dirimu yang selalu ada di setiap aku menoleh, yang selalu ada jika mata ini ingin sekali menangkap bayangmu, hadirmu. Telinga ini yang selalu peka mendengar gelak tawamu, suara halusmu, bahkan hidung ini yang kerap sekali menangkap aromamu meski kau jauh.

Aku masih ingat malam tadi, Mas
Saat kita sama-sama berada dalam 3 rakaat shalat, dengan kau sebagai imamku
Lantunan ayat-ayat Qur'an makin terasa sejuk menghampiri telingaku

Aku merasa waktu itu kita ditempatkan dalam waktu dan tempat yang sama untuk berbincang denganNya, tanpa jarak.
Didekatkan bukan dengan ketercelaan, tapi dengan hati suci usai beribadah
Menunduk bersama, tapi entah apa yang kita bicarakan sama
Aku berusaha memintamu dariNya, memintaNya untuk menjagamu nanti
menjaga hatiku untukmu, membahagiakanmu meski aku tak tahu apakah bahagiamu dan bahagiaku itu satu definisi

Aku takut berpisah, sungguh
Aku ingin berlari menemuimu, dan memelukmu erat dan berkata
"Jangan pergi, ku mohon."
Memang benar aku ini pengecut, aku takut takut apapun yg berhubungan denganmu

Menuju keberangkatanmu petang ini, aku makin gelisah
Aku terus membayangkan akan seperti apa aku tanpamu
Ibarat pohon yang tumbuh kerdil karena kekurangan hormon tertentu
Jika aku pohon, kaulah hormon itu. Aku butuh kamu untuk sempurnakan pertumbuhanku

Bye, Coach
Entah 31 Agustus nanti atau akan lebih lama
Aku siap menunggu ceritamu

Selasa, 25 Juni 2013

LDSK (3)

Matanya mengerjap perlahan. Sinar mengkilap langsung menerpa matanya. "Ini surga ya ? Apa aku ..." belum selesai iya menyelesaikan kalimat keheranannya, Tarra muncul dengan senyum leganya.
"Hush, kamu ini ada aja, Sof. Ini dirumah sakit..." ungkap Tarra menenangkan, sementara Phillip, Alleine, Nicholas yang berdiri melingkar di samping ranjangnya hanya tertawa pelan melihat muka Soffi penuh dengan kebingungan.
"Sebenarnya ada apa ini ?" tanyanya perlahan
"Kami nungguin kamu tadi di Lea's. Tapi tiba-tiba beberapa orang lari ke perempatan, orang bilang ada kecelakaan. Nicholas sama Alfredo lari duluan dan langsung nelfon kalau yg kecelakaan itu kamu." Alleine bicara dengan sangat cepat, nafasnya tersengal.
"Anehnya korbanmu ini cuma lecet di lengannya, eh kamu malah pingsan. Terus kita bawa kesini deh. Tuh, Nico yang panikan."kini giliran Phillip berargumen sambil memonyongkan bibir kearah Nicholas yang langsuung disambut dengan sikutan malu-malu Nicholas.
"Terus yang aku tabrak mana ?"
"Langsung pergi, padahal udah kita tawarin buat dibawa ke rumahsakit. Dia bilang sih dia baik-baik saja"
"Oh..."

Malam itu kelima sahabat itu berbincang lama di ruang perawatan. Ruang perawatan penuh oleh tawa riuh mereka sampai beberapa pasien dan keluarganya kerap menempelkan telunjuk di bibir mereka untuk beberapa menit memelankan suara mereka. Hingga ketika perawat menyuruh mereka pulang, baru ruangan itu senyap kembali dan tinggalah Soffi dengan beberapa pasien lain yang mulai menarik selimut, ingin tidur.

***
Beberapa hari setelah keluar dari rumahsakit, Soffi menyempatkan diri mampir ke Lea's. Alfredo menyambutnya dengan hangat.

"Holla, ma cherrie, apa kabar ? Kau sudah baikan ?" katanya sambil menanggalkan celemek masaknya.

"Hai, Fredo. Tentu, cuma shock kecil pasca kecelakaan hehe. Aku kangen Latte-mu, nih"

"Oh syukurlah. Tentu saja, sebentar aku buatkan, Latte-ku ini tiada duanya looh. Oiya, ada menu baru, aku yakin kamu suka. Tunggu ya" Alfredo langsung menuju dapurnya. Hilang dibalik pintu kayu mapple yang seperti baru saja dipasang. Banyak hal yang tampak baru di Cafe ini, atau mungkin perasaan Soffi saja.

Soffi disibukkan dengan mengamati segala penjuru Cafe dari tempat duduk favoritnya, tempat duduk di tepi jendela. Hingga pandangannya terhenti pada seseorang yang berjalan kearahnya, dengan nampan di tangan kiri, celemek merah Lea's, dan senyum manisnya.

"Permisi, Nona. Latte dan Strawberry Lava Velvet ?" suaranya terdengar merdu meski ia tidak sedang bernyanyi. Ia seorang pria dengan wajah Asia yang manis, kulitnya coklat dengan rambut jabrik lucunya.

"Ah, iya. Terimakasih ya" hanya itu yang dapat ia ucapkan dibalik rasa takjubnya.

Pria itu meletakkan Latte dan Strawberry Velvetnya di depan Soffi. Meninggalkan senyum dan berlalu menuju dapur. Soffi sendiri masih enggan mengalihkan pandangan sampai pria itu hilang ditelan pintu. Alfredo yang diam-diam memperhatikan dari sebuah meja terkikik geli melihat ekspresi Soffi.

Begitu selesai menikmati hidangan Lea's, Soffi menemui Alfredo.

"Wow, Velvetnya enak sekali, aku suka. Lain kali aku akan memesan ini tiap aku datang kesini"

"Ah, terimakasih, aku senang mendengarnya"

"Oiya, siapa pramusaji yang tadi mengantar makananku. Dia..."

"Ahaha, dia. Dia pramusaji baru, baru datang kemarin lusa. Dia yang kamu tabrak kemarin, Sof hehhe "

"Ah, yang benar ? Dia ? Kenapa dia tak mengungkit itu ya?"

"Mungkin malu haha"

"Namanya .."

"Nave, Navis Uktabara"

"Na..vis ?"

Entah kenapa lidah Soffi terasa kelu mengucap nama itu. Nama itu sama sekali terdengar tidak asing bagi Soffi. Nama seseorang yang ia kenal hampir setahun belakangan. Seseorang yang kemudian tiba-tiba menghilang dan tak diketahui rimbanya. Seseorang yang pernah menyematkan mimpi dan menitipkan hati padanya. Dan kini, ada orang bernama sama, di tempat ini, dan pertama bertemu sudah mencuri perhatiannya. Apakah itu benar dia ?

-Bersambung

Selasa, 18 Juni 2013

-Indonesia-

"Tante, saya tahu ini berat, tapi Naren sempat berpesan sama saya untuk menjaga tante. Mungkin dia sudah punya firasat. Tante jangan sedih, mungkin Naren akan lebih sedih jika meninggalkan ibunya yang ia sayangi dengan keadaan seperti ini." Navis berdiri disamping wanita paruh baya yang sedari tadi tak henti-hentinya meneteskan air mata, wanita itu bersandar pada bahu Navis dan Navis sendiri tak sungkan untuk mendekapnya.

Hari itu, payung payung hitam bergumul pada satu titik. Di titik dimana gundukan tanah menjulang, bunga mawar menutupi pusara dan nisan yang baru diukir dengan nama yang mungkin belum waktunya untuk ditanamkan di ujung peristirahatan terakhir orang ini. Dia begitu cepat pergi, baru minggu lalu ia genap berusia 26 tahun, baru bulan lalu diterima magang di perusahaan advertising dan sekarang dia pergi dengan banayk cerita yang kerap kali ia sembunyikan.

-Paris-
*6 bulan berikutnya*

"Soffi, ntar malam geng mau kumpul di Lea, mau ikut ?" Tarra menyikut Soffi yang daritadi sibuk mengetik halaman demi halaman Paper tugas dari dosennya.

"Pardon, aku ngga bisa ikut, Paperku ini belum selesai. Lain kali mungkin" jawab Soffi tanpa menoleh sekalipun sambil menyeka kacamata perseginya. Soffi jadi makin gila setelah kejadian 6 bulan lalu saat ia dengan bodohnya menunggu seseorang datang ke Paris, ya, teman virtualnya. Dia makin sibuk dengan paper, diskusi, "pengen cepat-cepat lulus" begitu katanya.

"Oke, aku sedikit terganggu denganmu Soffi. Kamu jadi jarang kumpul, bicaramu kaku dan kadang seriusan, paper-papermu mulu yang dipikirin. Kamu bisa ngga waras kalo begini terus, kamu ngga jenuh ? Kamu ini juga perlu sosialisasi Soff, kamu bukan mesin yang nyala 24jam buat kerja. Kali ini kamu harus ikut. Kita tunggu di Lea jam 7 PM. Aku ngga berani mbayangin apa yang terjadi kalau kamu ngga ikut ntar malem." kali ini Tarra tampak kesal, bicaranya tanpa henti dan sesekali menghela nafas sekenanya menahan sesak, lalu meninggalkan Soffi yang masih enggan menghentikan pandangan dari laptopnya.

*Menjelang 7 PM*

Soffi terduduk di pinggir tempat tidurnya, belum tahu apa yang ingin ia kerjakan. Ia lalu meraih frame photo kecil disamping tempat tidurnya.Memandangi satu per satu wajah dengan senyum gembira yang ada disana. Para sahabatnya. Alleine yang periang dan suka main UNO cards, Phillip yang jadi ketua pers jurusan tapi sama sekali ngga kaku, Nicholas si tempat curhat andalan dan suka teriakteriak kalau pertandingan sepakbola, Tarra yang peka, penyayang dan jago masalah percintaan. Di foto itu, tampak dirinya tersenyum lebar, membuatnya berpikir kapan ia terakhir kali tersenyum seperti itu ? "Aku harus bertemu mereka !" ucapnya sambil bergegas mengambil kunci scooter.

Ia memacu kendaraannya secepat mungkin, tak sabar bertemu sahabatnya dan melakukan hal-hal gila sepanjang malam. Melewati jalan arteri, lampu lalu lintas yang semula hijau, berganti merah pada jarak sekian meter saja sebelum garis zebra cross. Soffi yang memacu kendaraannya dengan keceptan tinggi, kesulitan mengerem dan pada akhirnya, " Braaaaaak...." ia menabrak pejalan kaki tepat di persimpangan menuju Lea Cafe.

-Bersambung-

Jumat, 14 Juni 2013

-Bandara A Yani, Semarang-


Seorang lelaki duduk di ruang tunggu bandara, disampingnya ada koper biru besar dengan tempelan sticker bermacam-macam, orang ini sendiri sibuk memainkan handphonenya, memencet tombol-tombol di handphone jadulnya sambil sesekali melihat papan besar dengan tulisan yang bergerak itu.

"Pesawat dengan nomor penerbangan NC 323 D177-200 tujuan Paris akan segera lepas landas, dimohon kepada para penumpang...." suara seorang perempuan menggema dari speaker di tiap sudut bandara, lelaki itu segera berdiri menarik pegangan koper beroda itu lalu menghilang dbalik kerumunan lalu lalang penumpang.

-Paris-

Wanita itu masih duduk disana, di pojok ruangan Cafe Lea masih asyik memandangi jendela yang baru saja dibasahi guyuran hujan. Sambil sesekali mengaduk Latte favoritnya, ia bersenandung gembira.

"Kau yakin dia kan datang hari ini ? Kau yakin ?" tibatiba saja lelaki kurus datang dan duduk dihadapannya. Lehernya berkalung syal loreng warna abu-abu, bajunya sedikit basah, mungkin dia barusaja menembus hujan yang masih enggan meninggalkan Paris dan menyisakan rintik-rintik.

"Tentu saja, dia sudah berjanji padaku. Aku bahkan telah menyiapkan kado untuknya. Kau lihat ini ? Aku  harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk kemudian memutuskan kado ini yang kupilih" kata wanita dengan sumringah, menunjuk kotak kecil berwarna biru muda dihias pita warna-warni.

Lelaki itu hanya tersenyum, sahabatnya ini telah hilang sebagian kewarasannya, bagaimana tidak ? Sebulan belakangan ini, dia tak henti-hentinya membicarakan lelaki yang dikenalnya lewat jejaring sosial. Dan kali ini lelaki itu akan datang menemuinya di Paris, jauh-jauh dari negara di tenggara Asia, yang entah nama negara itu susah untuk dilafalkan.

Tiba-tiba saja TV di Cafe itu menayangkan berita kecelakaan pesawat.
"Tuh lihat, disaat cuaca seperti ini, badai, angin kencang, berkabut, pesawat mana yang mau terbang dan mencelakakan penumpangnya ? Bodoh." lelaki kurus berkelakar lagi, wanita dihadapannya hanya geleng-geleng kepala namun merasa khawatir, pikirannya berkecamuk, " Apa dia baik-baik saja ?"

"Sean, seaan, seeeeaaaaaaan !" Lelaki itu meninggikan suaranya, ia menepuk tangan Sean berkali-kali, Sean yang banyak pikiran, sean yang tenggelam dalam lamunannya. Lelaki itu memikirkan banyak hal, "Seperti apa lelaki ini ? Mengapa dia begitu istimewa ? Mengapa ia sampai membuat Sean seperti ini ? Aku tak pernah melihat Sean seperti ini padaku"

***
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, beberapa waitress sibuk merapikan meja, membersihkan lantai, mengelap beberapa piring saji, Sean sendiri masih di tempat yang sama. Masih menunggu lelaki-dari-sosial-media itu. Bedanya kini tak ada lagi lelaki yang tadi ada dihadapannya. Dia sudah pergi karena mungkin mersa teracuhkan.

"Pardon, ma cherie, kami sudah mau tutup" kata si Alfredo, pemilik Cafe sambil menunjukkan angka di jam kulitnya.

"Oh, Oui, monsieur. Maaf merepotkanmu, lain kali saya kesini lagi ya, Bonne Nuit" Sean kemudian beranjak keluar dari Cafe dengan raut muka sendu. Ia tak bersemangat sama sekali.

"Hey, Sean. Kamu lupa kadomu !" Alfredo berteriak, mengangkat kado mungil itu

"Sudah, buang saja, aku tak membutuhkannya" sambil berlalu membuka payung dan merapatkan jaketnya, Sean pergi, ditemani rintik hujan yang rasanya sangat mengerti bahwa ia butuh ditemani, oleh suara rintik hujan, titik air jatuh dan lembutnya angin menerpa kulit.

"Kau pembohong ! Pembohong " katanya diamdiam dalam hati, tetes air mata jatuh berlinang, ia menutup payungnya, dan menengadah menatap langit kelabu, membiarkan tetes air matanya berbaur dengan hujan, melegakan perasaan kecewanya dan menahan umpatan lain yang mungkin lebih menyakitkan.

-Masih menunggu-
Aku masih menunggu kamu, Will. Kadang masih mengintip aktivitasmu dari balik timeline, dan kau tak nampak sama sekali. Tibatiba saja, sms seseorang mampir ke hapeku, mengacaukan inbox yang mulanya penuh dengan nomor asing dengan isi pesan yang sama sekali tak aku mengerti.

From : Gitaultraaa
Jadi ndaftar sbmptn ?

Bukan isi pesannya yang aku permasalahkan, bukan. Tapi orang yang mengirim sms itu. Gitaultraaa.
Dia gadis yang selama ini memberiku banyak wejangan, mulai dari kata-kata penyemangat, motivasi, nasehat-nasehat. Dia salah seorang yang mengulurkan tangan, saat aku terjatuh dan sulit bangkit, dia yang banyak memberiku pelajaran dari apa yang ia alami.

Tapi, bukan hanya itu, orang ini mengirim pesan sekian menit setelah aku post entry blog yang sebelumnya. Apa hubungannya ? Ya, si Gitaultraaa ini kakak dari Wilmar, tokoh dari seseorang yang aku tulis 2 hari terakhir.

Aku tak berani membalas pesan itu, takut perbincangan lain terjadi. Apa yang ia pikirkan jika aku yang notabene seorang gadis seusianya, jatuh cinta lebih tepatnya tergila-gila padamu, lelaki yang 3 tahun lebih muda.

Aku kadang mengira ini sebagai cinta monyet, tapi ya, aku sudah sebesar ini, dan cinta monyetmonyetanpun hanya berlaku bagi para remaja yang baru aja puber.

Boleh melupakanmu ? Oke, setelah ini, aku mulai mengemasi semua khayal gilaku tentangmu, membereskan hati dan berkata dengan lantang, "SELAMAT TINGGAL, Willy"



Kamis, 13 Juni 2013

Wilmar

-2 tahun yang lalu, SMA-
Aku masih ingat betul kejadian 2 tahun yang lalu, semester pertamaku di kelas XII, senangnya bukan kepalang, tertawa bersama teman-teman yang sama seperti setahun yang lalu, membicarakan masa depan, saling membiarkan diri jatuh cinta.
Aku ingat juga, saat teman-temanku yang lain sibuk mengeksekusi pelajaran pertama, aku dan beberapa orang berseragam hitam sibuk mengorientasi murid baru. Kesemua murid baru itu bertampang sama, waswas membayangkan MOS yang akan dihadapinya, mengintip malu-malu dari barisan bahkan ada yang enggan berkata sepatah katapun.
Hari itu, pertama kali aku melihatnya.
Lelaki jangkung, kurus dengan kulit menghitam serta seragam putih-birumu yang warnanya memudar. Aku penasaran denganmu waktu itu, kau berdiri paling belakang dan aku dapat melihat wajahmu dengan sebelah mata yang kau picingkan menahan terpaan matahari.
"Maulana Wilmar, sepuluh sembilan..." mikrofon itu kembali bersuara, dan aku melihatmu maju dengan langkah semi-gontai. Hari itu aku tahu, kamu Wilmar
-Hari ini, Universitas-
Bayangan 2 tahun lalu itu muncul lagi, Willy. Saat tak sengaja aku melihatmu muncul dari timeline twitter dan aku ragu kau ingat padaku, sangat ragu. Bahkan aku tak berani mereka-reka apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku beranikan diri, seengaknya, ya meretweet tweetmu yang sejujurnya ngga penting.
Detik berganti menit, menit berganti jam, aku memandangi layar menunggu suara notifikasi muncul, tapi sama sekali tidak terdengar apapun. Mungkin benar kau tak mengingatku, aku sendiri tak mau memusingkan, tapi apa salahnnya berharap. Ya, gadis sepertiku ini berharap pada lelaki tanggung sepertimu.

Masih berlanjut, masih di draft, tunggu saja~

Senin, 10 Juni 2013

-Mon, Jun 9th 2013, 6.38 AM, beloved room-

Hari ini, beberapa jam menuju kepulangan, saya masih enggan meninggalkan pojokan kamar dimana netbook ini berada, masih sibuk, MENULIS.
 Sepertinya saya terpacu dengan kata-kata bang Tere-Liye, "Ngga PD itu ngga masalah, yang penting tetap menulis" dan disinilah saya, masih berusaha menuju pintu itu, dengan bersusah payah, belajar dan belajar, hingga nantinya hanya tak ada jarak lagi menuju pintu itu.

Yang namanya kejenuhan itu pasti, apalagi jenuh dalam menulis, (sekali lagi) Bang Tere bilang, " Saat jenuh, temukan motivasi terbaikmu", jadi saat jenuh, sayapun berpikir, APA MOTIVASI TERBAIK SAYA ? Ada beberapa opsi yang muncul saat itu, seperti : "SAYA MAU SUKSES"atau "SAYA MAU KELILING DUNIA" atau juga "SAYA MAU BIKIN BUKU" tapi, 1 klimat sederhana yang berhasil memicu saya adalah kata-kata ini " SAYA MAU MEMBUAT ORANG BAHAGIA DENGAN TULISAN SAYA", memang spertinya dalam sederhana, tapi jika kau melihat lebih dalam, dan meresapinya, tentu itu bukanlah motivasi sekaligus salahsatu tujuan akhir yang mudah.

Saya tidak punya bakat sama sekali dalam menulis, hanya berbekal suka, tertarik dan minat saja. Saya suka bagaimana para penulis beken memunculkan makna sendiri dengan gaya mereka, perspektif yang sama seklai tak dipikirkan orang, dan yang membuat tercengang, tulisan itu mencengangkan dunia *a thousand applouse for all writers*

Jadi kadang saya merasa terjebak, saya menyukai sastra, ilmu-ilmu kepenulisan, tapi kenapa saya masuk di sebuah program studi yang jaman SMA sama sekali tak terpikirkan oleh saya, ya, Keperawatan. Banyak yang bilang, perawat itu pekerjaan rendah, disuruh buang kotoran orang padahal sekolahnya itu mahal banget, gajinya dikit, kerjanya sampe malem" begitulah T.T

Tapi, ada dosen yang bilang, " Perawat itu panggilan hati, nak. Panggilan surga, jadi buat apa dipusingkan, tidak masalah jika kau belum menemukan passion itu, kau bisa belajar dan bercerita jika kau merasa jenuh"
Tidak masalah sih sebenarnya jika kau terjebak, kau hanya harus berusaha menikmatinya dan cari sisi yang benar-benar milikmu dalam keterjebakanmu itu,sisi positif tentunya.
Ada satu kalimat lagi, kali ini dari drama korea terbaik "Dream High", "Tidak masalah jika kau berjalan sedikit lebih lambat, dibandingkan mereka yang berjalan lebih cepat, bukankah kau dapat melihat lebih banyak hal dibanding orang berjalan lebih cepat darimu ? "
Well, sekian, saya mau packing duluuu~

Senin, 13 Mei 2013

"...Jingga menggelayut manja, enggan beranjak dari sore..."
Aku masih terduduk di lantai kamar kos, memandangi arakan awan sore dari jendela kamar. Tralis dengan besi mengarat ini, membuatku makin sendu, sendu terhadap lamunanku, yah hari itu bermacam pikiran berkecamuk disini, dihatiku, dipikiranku.
Perkataan seorang karib, sebuah fakta, sebuah cerita, rasanya makin sesakkan dada.
" Bukan, dia belum ada yang punya. Tapi, dia lagi mbribik seseorang."
Aaaah, pasti wanita itu cantik, sempurna akhlaknya, hedon, setaralah sama dia. Aku makin tenggelam sama opiniku sendiri, pengen nangis saat itu juga, pengen pukulpukul, pengen minum morfin yang banyak buat ngilangin nyeri. But, strong girl always keep her pride up. And I've done it that time !
Dan hari ini, apa yang aku pendam hari itu, aku tumpahkan saat ini. Bukan dengan tangisan (yaelah masak iya aku harus nangis kejer, mukul bantal, sesenggukan gajelas. It's not my style, pals !) , tapi lewat tulisan semacam ini.
Menganggap tulisan ini akan berbicara, memflashback dan entah rasanya sedikit beban mulai berkurang. Aku inget sama kata dosen, "Penyakit itu asalnya cuma dua : Otak sama Hati. Jadi kalau mau sembuh, sembuhin dulu kedua hal itu, and wait your God work on :) " dan itu yang aku lakukan. Aku lebih milih semedi dulu di kamar, nata hati, nata pikiran, dikit demi dikit ngurangin rasa sakit (Please Allah help me *yell* )

-Terimakasih

Selasa, 15 Januari 2013

 
Dame Agatha Mary Clarissa Christie, atau yang terkenal dengan nama Agatha Christie, adalah penulis cerita detektif Inggris paling terkenal di dunia. Dilahirkan pada 15 September 1890, Agatha Christie menulis 80-an buku, dan total penjualannya mencapai satu miliar eksemplar dalam bahasa Inggris, dan satu miliar lagi dalam 45 bahasa asing. Praktis dapat dikatakan bahwa Agatha Christie adalah penulis Inggris paling terkenal setelah Shakespeare.

Pada waktu Perang Dunia II, Agatha Christie bekerja sebagai apoteker, dan pekerjaan itulah yang kemudian menjadikannya akrab dengan obat-obatan sekaligus racun—unsur yang sering muncul dalam kisah-kisah detektif dan pembunuhan yang ditulisnya.

Pada 1930 dia menikah dengan Sir Max Mallowan, seorang arkeolog Inggris. Bersama suaminya, Agatha Christie sering melakukan perjalanan ke berbagai negara, termasuk ke Timur Tengah, yang kemudian memberinya banyak ide untuk beberapa latar belakang novel-novelnya.

Selain menulis novel, Agatha Christie juga menulis sejumlah sandiwara teater yang kebanyakan ber-genre misteri. Tokoh ciptaannya yang sangat terkenal adalah Hercule Poirot, seorang detektif Belgia yang berkarakter unik. Banyak karya Christie yang telah difilmkan, beberapa di antaranya bahkan difilmkan berulang-ulang, semisal “Pembunuhan di Atas Orient Express”, “Pembunuhan di Sungai Nil”, dan “Kereta 4.50 dari Paddington”.

Selain menulis novel detektif, dia juga menulis novel roman dengan nama pena Mary Westmacott. Sementara sandiwara panggung karyanya, “The Mousetrap”, memegang rekor sebagai sandiwara dengan masa putar terpanjang di London—dimulai pada 25 November 1952 hingga sekarang telah diputar lebih dari 20.000 kali.

Pada 1971 dia dianugerahi gelar “Dame Commander of the British Empire”. Agatha Christie meninggal dunia pada 12 Januari 1976.

Hmm... ada yang mau menambahkan?



Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates