Jumat, 15 November 2013

Baru kemarin ibu berkunjung ke tempat singgah saya selama merantau di kota ini. Rasanya sudah lama tidak melihat wajah beliau. Aaaaah, hari itu takkan kulewatkan.

Ibu berkirim pesan bahwa mungkin kedatangannya akan sedikit terlambat, memintaku sabar menunggu.

Saya meninggalkan rutinitas saya sebagai salah satu player di Marching Band. Teman-teman saya menghubungi, hendak bertanya kabar. Salah saya saat itu adalah tak menyempatkan diri berkabar kepada seorang teman. Saya kalut. Merekapun akhirnya mengerti.

Tiba saatnya ibu datang.

Membawakan sekardus besar sembako untuk bekal hidup saya beberapa waktu kedepan. Beras, olahan daging sapi kesukaan, buah-buahan dan uang untuk membayar listrik dan sisanya untuk tambahan uang saku.

Ibu bercerita bahwa selama ini ia bekerja keras mengumpulkan uang untuk masa depan saya. Ketahuilah ibu, saya tahu. Saya tahu juga itu pasti sangat berat bagimu, mengurus kami anakmu seorang diri tanpa bapak.

Ditambah lagi saat beliau bercerita betapa tertekannya beliau ketika harus menghadapi adik saya yang sedang nakal-nakalnya. Haaaaah, pedih.

Malam itu, ibu memutuskan menginap di kos, tidur dibawah, karena memang kasurnya hanya satu, dinginnya pasti, tapi ia mementingkan saya. Saat pagi menjelang, ibu naik ke tempat tidur, memeluk saya dengan hangat. Sejak kapan saya tak merasakan pelukan seperti ini ?

Ketika tiba saatnya pulang, ini semakin berat.

Sepanjang jalan memikirkan apakah ibu akan baik saja selama perjalanan ?

Kapan lagi saya akan bertemu beliau secara langsung ? Jalan bersama, menghabiskan waktu bersama ?

Hati saya berat, bernafaspun terasa bagai sputum memenuhi rongga nafas, matapun pedih, hingga berasa air berada diujung pelupuk.

Tapi satu yang pasti, doa ibu akan selalu terucap, kasih sayang akan terus ada, tinggal bagaimana saya membalasnya.

Membanggakan beliau atau justru membebani beliau dengan hal lainnya.

BIsmilah, ibu saya akan bahagiakan engkau.

 

Peluk, cium. Anakmu

Rabu, 06 November 2013

Kadang tak semua film terbaik Oscar itu kau sukai
Kadang tak semua pemenang MTV Award itu kau sukai
Kadang makanan mahal di cafe terkenal itu kau sukai
Terkadang, lelaki tampan nan rupawan itu juga kau sukai

Kau mencoba menyukai tiap hal darinya
Lelaki yang kau gadang-gadang bonafit denganmu
Kau terkadang melebihkan persepsi tentangnya
Menganggap segala perhatian, tatapan, status sosialmedia itu untukmu

Kau berlatih keras agar dia menyukaimu
Menghabiskan waktu lebih lama didepan cermin agar tampil memukau
Memakai parfum yang kau anggap akan membuatnya terpesona
Dan cemas apakah dia akan menyukai baju yang kau pakai hari ini

Ah, begitu bodohnya masa itu
Masa ketika kau begitu dia merajaimu
Dan kini, ketika tak ada lagi rasa untuknya karna trauma
Masihkah kau ingin bersikap seperti itu ?

Apakah kau akan tetap menyukai hal yang tak sadar malah menyakitimu ?

Template by:
Free Blog Templates

Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates