Selasa, 25 Juni 2013

LDSK (3)

Matanya mengerjap perlahan. Sinar mengkilap langsung menerpa matanya. "Ini surga ya ? Apa aku ..." belum selesai iya menyelesaikan kalimat keheranannya, Tarra muncul dengan senyum leganya.
"Hush, kamu ini ada aja, Sof. Ini dirumah sakit..." ungkap Tarra menenangkan, sementara Phillip, Alleine, Nicholas yang berdiri melingkar di samping ranjangnya hanya tertawa pelan melihat muka Soffi penuh dengan kebingungan.
"Sebenarnya ada apa ini ?" tanyanya perlahan
"Kami nungguin kamu tadi di Lea's. Tapi tiba-tiba beberapa orang lari ke perempatan, orang bilang ada kecelakaan. Nicholas sama Alfredo lari duluan dan langsung nelfon kalau yg kecelakaan itu kamu." Alleine bicara dengan sangat cepat, nafasnya tersengal.
"Anehnya korbanmu ini cuma lecet di lengannya, eh kamu malah pingsan. Terus kita bawa kesini deh. Tuh, Nico yang panikan."kini giliran Phillip berargumen sambil memonyongkan bibir kearah Nicholas yang langsuung disambut dengan sikutan malu-malu Nicholas.
"Terus yang aku tabrak mana ?"
"Langsung pergi, padahal udah kita tawarin buat dibawa ke rumahsakit. Dia bilang sih dia baik-baik saja"
"Oh..."

Malam itu kelima sahabat itu berbincang lama di ruang perawatan. Ruang perawatan penuh oleh tawa riuh mereka sampai beberapa pasien dan keluarganya kerap menempelkan telunjuk di bibir mereka untuk beberapa menit memelankan suara mereka. Hingga ketika perawat menyuruh mereka pulang, baru ruangan itu senyap kembali dan tinggalah Soffi dengan beberapa pasien lain yang mulai menarik selimut, ingin tidur.

***
Beberapa hari setelah keluar dari rumahsakit, Soffi menyempatkan diri mampir ke Lea's. Alfredo menyambutnya dengan hangat.

"Holla, ma cherrie, apa kabar ? Kau sudah baikan ?" katanya sambil menanggalkan celemek masaknya.

"Hai, Fredo. Tentu, cuma shock kecil pasca kecelakaan hehe. Aku kangen Latte-mu, nih"

"Oh syukurlah. Tentu saja, sebentar aku buatkan, Latte-ku ini tiada duanya looh. Oiya, ada menu baru, aku yakin kamu suka. Tunggu ya" Alfredo langsung menuju dapurnya. Hilang dibalik pintu kayu mapple yang seperti baru saja dipasang. Banyak hal yang tampak baru di Cafe ini, atau mungkin perasaan Soffi saja.

Soffi disibukkan dengan mengamati segala penjuru Cafe dari tempat duduk favoritnya, tempat duduk di tepi jendela. Hingga pandangannya terhenti pada seseorang yang berjalan kearahnya, dengan nampan di tangan kiri, celemek merah Lea's, dan senyum manisnya.

"Permisi, Nona. Latte dan Strawberry Lava Velvet ?" suaranya terdengar merdu meski ia tidak sedang bernyanyi. Ia seorang pria dengan wajah Asia yang manis, kulitnya coklat dengan rambut jabrik lucunya.

"Ah, iya. Terimakasih ya" hanya itu yang dapat ia ucapkan dibalik rasa takjubnya.

Pria itu meletakkan Latte dan Strawberry Velvetnya di depan Soffi. Meninggalkan senyum dan berlalu menuju dapur. Soffi sendiri masih enggan mengalihkan pandangan sampai pria itu hilang ditelan pintu. Alfredo yang diam-diam memperhatikan dari sebuah meja terkikik geli melihat ekspresi Soffi.

Begitu selesai menikmati hidangan Lea's, Soffi menemui Alfredo.

"Wow, Velvetnya enak sekali, aku suka. Lain kali aku akan memesan ini tiap aku datang kesini"

"Ah, terimakasih, aku senang mendengarnya"

"Oiya, siapa pramusaji yang tadi mengantar makananku. Dia..."

"Ahaha, dia. Dia pramusaji baru, baru datang kemarin lusa. Dia yang kamu tabrak kemarin, Sof hehhe "

"Ah, yang benar ? Dia ? Kenapa dia tak mengungkit itu ya?"

"Mungkin malu haha"

"Namanya .."

"Nave, Navis Uktabara"

"Na..vis ?"

Entah kenapa lidah Soffi terasa kelu mengucap nama itu. Nama itu sama sekali terdengar tidak asing bagi Soffi. Nama seseorang yang ia kenal hampir setahun belakangan. Seseorang yang kemudian tiba-tiba menghilang dan tak diketahui rimbanya. Seseorang yang pernah menyematkan mimpi dan menitipkan hati padanya. Dan kini, ada orang bernama sama, di tempat ini, dan pertama bertemu sudah mencuri perhatiannya. Apakah itu benar dia ?

-Bersambung

Selasa, 18 Juni 2013

-Indonesia-

"Tante, saya tahu ini berat, tapi Naren sempat berpesan sama saya untuk menjaga tante. Mungkin dia sudah punya firasat. Tante jangan sedih, mungkin Naren akan lebih sedih jika meninggalkan ibunya yang ia sayangi dengan keadaan seperti ini." Navis berdiri disamping wanita paruh baya yang sedari tadi tak henti-hentinya meneteskan air mata, wanita itu bersandar pada bahu Navis dan Navis sendiri tak sungkan untuk mendekapnya.

Hari itu, payung payung hitam bergumul pada satu titik. Di titik dimana gundukan tanah menjulang, bunga mawar menutupi pusara dan nisan yang baru diukir dengan nama yang mungkin belum waktunya untuk ditanamkan di ujung peristirahatan terakhir orang ini. Dia begitu cepat pergi, baru minggu lalu ia genap berusia 26 tahun, baru bulan lalu diterima magang di perusahaan advertising dan sekarang dia pergi dengan banayk cerita yang kerap kali ia sembunyikan.

-Paris-
*6 bulan berikutnya*

"Soffi, ntar malam geng mau kumpul di Lea, mau ikut ?" Tarra menyikut Soffi yang daritadi sibuk mengetik halaman demi halaman Paper tugas dari dosennya.

"Pardon, aku ngga bisa ikut, Paperku ini belum selesai. Lain kali mungkin" jawab Soffi tanpa menoleh sekalipun sambil menyeka kacamata perseginya. Soffi jadi makin gila setelah kejadian 6 bulan lalu saat ia dengan bodohnya menunggu seseorang datang ke Paris, ya, teman virtualnya. Dia makin sibuk dengan paper, diskusi, "pengen cepat-cepat lulus" begitu katanya.

"Oke, aku sedikit terganggu denganmu Soffi. Kamu jadi jarang kumpul, bicaramu kaku dan kadang seriusan, paper-papermu mulu yang dipikirin. Kamu bisa ngga waras kalo begini terus, kamu ngga jenuh ? Kamu ini juga perlu sosialisasi Soff, kamu bukan mesin yang nyala 24jam buat kerja. Kali ini kamu harus ikut. Kita tunggu di Lea jam 7 PM. Aku ngga berani mbayangin apa yang terjadi kalau kamu ngga ikut ntar malem." kali ini Tarra tampak kesal, bicaranya tanpa henti dan sesekali menghela nafas sekenanya menahan sesak, lalu meninggalkan Soffi yang masih enggan menghentikan pandangan dari laptopnya.

*Menjelang 7 PM*

Soffi terduduk di pinggir tempat tidurnya, belum tahu apa yang ingin ia kerjakan. Ia lalu meraih frame photo kecil disamping tempat tidurnya.Memandangi satu per satu wajah dengan senyum gembira yang ada disana. Para sahabatnya. Alleine yang periang dan suka main UNO cards, Phillip yang jadi ketua pers jurusan tapi sama sekali ngga kaku, Nicholas si tempat curhat andalan dan suka teriakteriak kalau pertandingan sepakbola, Tarra yang peka, penyayang dan jago masalah percintaan. Di foto itu, tampak dirinya tersenyum lebar, membuatnya berpikir kapan ia terakhir kali tersenyum seperti itu ? "Aku harus bertemu mereka !" ucapnya sambil bergegas mengambil kunci scooter.

Ia memacu kendaraannya secepat mungkin, tak sabar bertemu sahabatnya dan melakukan hal-hal gila sepanjang malam. Melewati jalan arteri, lampu lalu lintas yang semula hijau, berganti merah pada jarak sekian meter saja sebelum garis zebra cross. Soffi yang memacu kendaraannya dengan keceptan tinggi, kesulitan mengerem dan pada akhirnya, " Braaaaaak...." ia menabrak pejalan kaki tepat di persimpangan menuju Lea Cafe.

-Bersambung-

Jumat, 14 Juni 2013

-Bandara A Yani, Semarang-


Seorang lelaki duduk di ruang tunggu bandara, disampingnya ada koper biru besar dengan tempelan sticker bermacam-macam, orang ini sendiri sibuk memainkan handphonenya, memencet tombol-tombol di handphone jadulnya sambil sesekali melihat papan besar dengan tulisan yang bergerak itu.

"Pesawat dengan nomor penerbangan NC 323 D177-200 tujuan Paris akan segera lepas landas, dimohon kepada para penumpang...." suara seorang perempuan menggema dari speaker di tiap sudut bandara, lelaki itu segera berdiri menarik pegangan koper beroda itu lalu menghilang dbalik kerumunan lalu lalang penumpang.

-Paris-

Wanita itu masih duduk disana, di pojok ruangan Cafe Lea masih asyik memandangi jendela yang baru saja dibasahi guyuran hujan. Sambil sesekali mengaduk Latte favoritnya, ia bersenandung gembira.

"Kau yakin dia kan datang hari ini ? Kau yakin ?" tibatiba saja lelaki kurus datang dan duduk dihadapannya. Lehernya berkalung syal loreng warna abu-abu, bajunya sedikit basah, mungkin dia barusaja menembus hujan yang masih enggan meninggalkan Paris dan menyisakan rintik-rintik.

"Tentu saja, dia sudah berjanji padaku. Aku bahkan telah menyiapkan kado untuknya. Kau lihat ini ? Aku  harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk kemudian memutuskan kado ini yang kupilih" kata wanita dengan sumringah, menunjuk kotak kecil berwarna biru muda dihias pita warna-warni.

Lelaki itu hanya tersenyum, sahabatnya ini telah hilang sebagian kewarasannya, bagaimana tidak ? Sebulan belakangan ini, dia tak henti-hentinya membicarakan lelaki yang dikenalnya lewat jejaring sosial. Dan kali ini lelaki itu akan datang menemuinya di Paris, jauh-jauh dari negara di tenggara Asia, yang entah nama negara itu susah untuk dilafalkan.

Tiba-tiba saja TV di Cafe itu menayangkan berita kecelakaan pesawat.
"Tuh lihat, disaat cuaca seperti ini, badai, angin kencang, berkabut, pesawat mana yang mau terbang dan mencelakakan penumpangnya ? Bodoh." lelaki kurus berkelakar lagi, wanita dihadapannya hanya geleng-geleng kepala namun merasa khawatir, pikirannya berkecamuk, " Apa dia baik-baik saja ?"

"Sean, seaan, seeeeaaaaaaan !" Lelaki itu meninggikan suaranya, ia menepuk tangan Sean berkali-kali, Sean yang banyak pikiran, sean yang tenggelam dalam lamunannya. Lelaki itu memikirkan banyak hal, "Seperti apa lelaki ini ? Mengapa dia begitu istimewa ? Mengapa ia sampai membuat Sean seperti ini ? Aku tak pernah melihat Sean seperti ini padaku"

***
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, beberapa waitress sibuk merapikan meja, membersihkan lantai, mengelap beberapa piring saji, Sean sendiri masih di tempat yang sama. Masih menunggu lelaki-dari-sosial-media itu. Bedanya kini tak ada lagi lelaki yang tadi ada dihadapannya. Dia sudah pergi karena mungkin mersa teracuhkan.

"Pardon, ma cherie, kami sudah mau tutup" kata si Alfredo, pemilik Cafe sambil menunjukkan angka di jam kulitnya.

"Oh, Oui, monsieur. Maaf merepotkanmu, lain kali saya kesini lagi ya, Bonne Nuit" Sean kemudian beranjak keluar dari Cafe dengan raut muka sendu. Ia tak bersemangat sama sekali.

"Hey, Sean. Kamu lupa kadomu !" Alfredo berteriak, mengangkat kado mungil itu

"Sudah, buang saja, aku tak membutuhkannya" sambil berlalu membuka payung dan merapatkan jaketnya, Sean pergi, ditemani rintik hujan yang rasanya sangat mengerti bahwa ia butuh ditemani, oleh suara rintik hujan, titik air jatuh dan lembutnya angin menerpa kulit.

"Kau pembohong ! Pembohong " katanya diamdiam dalam hati, tetes air mata jatuh berlinang, ia menutup payungnya, dan menengadah menatap langit kelabu, membiarkan tetes air matanya berbaur dengan hujan, melegakan perasaan kecewanya dan menahan umpatan lain yang mungkin lebih menyakitkan.

-Masih menunggu-
Aku masih menunggu kamu, Will. Kadang masih mengintip aktivitasmu dari balik timeline, dan kau tak nampak sama sekali. Tibatiba saja, sms seseorang mampir ke hapeku, mengacaukan inbox yang mulanya penuh dengan nomor asing dengan isi pesan yang sama sekali tak aku mengerti.

From : Gitaultraaa
Jadi ndaftar sbmptn ?

Bukan isi pesannya yang aku permasalahkan, bukan. Tapi orang yang mengirim sms itu. Gitaultraaa.
Dia gadis yang selama ini memberiku banyak wejangan, mulai dari kata-kata penyemangat, motivasi, nasehat-nasehat. Dia salah seorang yang mengulurkan tangan, saat aku terjatuh dan sulit bangkit, dia yang banyak memberiku pelajaran dari apa yang ia alami.

Tapi, bukan hanya itu, orang ini mengirim pesan sekian menit setelah aku post entry blog yang sebelumnya. Apa hubungannya ? Ya, si Gitaultraaa ini kakak dari Wilmar, tokoh dari seseorang yang aku tulis 2 hari terakhir.

Aku tak berani membalas pesan itu, takut perbincangan lain terjadi. Apa yang ia pikirkan jika aku yang notabene seorang gadis seusianya, jatuh cinta lebih tepatnya tergila-gila padamu, lelaki yang 3 tahun lebih muda.

Aku kadang mengira ini sebagai cinta monyet, tapi ya, aku sudah sebesar ini, dan cinta monyetmonyetanpun hanya berlaku bagi para remaja yang baru aja puber.

Boleh melupakanmu ? Oke, setelah ini, aku mulai mengemasi semua khayal gilaku tentangmu, membereskan hati dan berkata dengan lantang, "SELAMAT TINGGAL, Willy"



Kamis, 13 Juni 2013

Wilmar

-2 tahun yang lalu, SMA-
Aku masih ingat betul kejadian 2 tahun yang lalu, semester pertamaku di kelas XII, senangnya bukan kepalang, tertawa bersama teman-teman yang sama seperti setahun yang lalu, membicarakan masa depan, saling membiarkan diri jatuh cinta.
Aku ingat juga, saat teman-temanku yang lain sibuk mengeksekusi pelajaran pertama, aku dan beberapa orang berseragam hitam sibuk mengorientasi murid baru. Kesemua murid baru itu bertampang sama, waswas membayangkan MOS yang akan dihadapinya, mengintip malu-malu dari barisan bahkan ada yang enggan berkata sepatah katapun.
Hari itu, pertama kali aku melihatnya.
Lelaki jangkung, kurus dengan kulit menghitam serta seragam putih-birumu yang warnanya memudar. Aku penasaran denganmu waktu itu, kau berdiri paling belakang dan aku dapat melihat wajahmu dengan sebelah mata yang kau picingkan menahan terpaan matahari.
"Maulana Wilmar, sepuluh sembilan..." mikrofon itu kembali bersuara, dan aku melihatmu maju dengan langkah semi-gontai. Hari itu aku tahu, kamu Wilmar
-Hari ini, Universitas-
Bayangan 2 tahun lalu itu muncul lagi, Willy. Saat tak sengaja aku melihatmu muncul dari timeline twitter dan aku ragu kau ingat padaku, sangat ragu. Bahkan aku tak berani mereka-reka apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku beranikan diri, seengaknya, ya meretweet tweetmu yang sejujurnya ngga penting.
Detik berganti menit, menit berganti jam, aku memandangi layar menunggu suara notifikasi muncul, tapi sama sekali tidak terdengar apapun. Mungkin benar kau tak mengingatku, aku sendiri tak mau memusingkan, tapi apa salahnnya berharap. Ya, gadis sepertiku ini berharap pada lelaki tanggung sepertimu.

Masih berlanjut, masih di draft, tunggu saja~

Senin, 10 Juni 2013

-Mon, Jun 9th 2013, 6.38 AM, beloved room-

Hari ini, beberapa jam menuju kepulangan, saya masih enggan meninggalkan pojokan kamar dimana netbook ini berada, masih sibuk, MENULIS.
 Sepertinya saya terpacu dengan kata-kata bang Tere-Liye, "Ngga PD itu ngga masalah, yang penting tetap menulis" dan disinilah saya, masih berusaha menuju pintu itu, dengan bersusah payah, belajar dan belajar, hingga nantinya hanya tak ada jarak lagi menuju pintu itu.

Yang namanya kejenuhan itu pasti, apalagi jenuh dalam menulis, (sekali lagi) Bang Tere bilang, " Saat jenuh, temukan motivasi terbaikmu", jadi saat jenuh, sayapun berpikir, APA MOTIVASI TERBAIK SAYA ? Ada beberapa opsi yang muncul saat itu, seperti : "SAYA MAU SUKSES"atau "SAYA MAU KELILING DUNIA" atau juga "SAYA MAU BIKIN BUKU" tapi, 1 klimat sederhana yang berhasil memicu saya adalah kata-kata ini " SAYA MAU MEMBUAT ORANG BAHAGIA DENGAN TULISAN SAYA", memang spertinya dalam sederhana, tapi jika kau melihat lebih dalam, dan meresapinya, tentu itu bukanlah motivasi sekaligus salahsatu tujuan akhir yang mudah.

Saya tidak punya bakat sama sekali dalam menulis, hanya berbekal suka, tertarik dan minat saja. Saya suka bagaimana para penulis beken memunculkan makna sendiri dengan gaya mereka, perspektif yang sama seklai tak dipikirkan orang, dan yang membuat tercengang, tulisan itu mencengangkan dunia *a thousand applouse for all writers*

Jadi kadang saya merasa terjebak, saya menyukai sastra, ilmu-ilmu kepenulisan, tapi kenapa saya masuk di sebuah program studi yang jaman SMA sama sekali tak terpikirkan oleh saya, ya, Keperawatan. Banyak yang bilang, perawat itu pekerjaan rendah, disuruh buang kotoran orang padahal sekolahnya itu mahal banget, gajinya dikit, kerjanya sampe malem" begitulah T.T

Tapi, ada dosen yang bilang, " Perawat itu panggilan hati, nak. Panggilan surga, jadi buat apa dipusingkan, tidak masalah jika kau belum menemukan passion itu, kau bisa belajar dan bercerita jika kau merasa jenuh"
Tidak masalah sih sebenarnya jika kau terjebak, kau hanya harus berusaha menikmatinya dan cari sisi yang benar-benar milikmu dalam keterjebakanmu itu,sisi positif tentunya.
Ada satu kalimat lagi, kali ini dari drama korea terbaik "Dream High", "Tidak masalah jika kau berjalan sedikit lebih lambat, dibandingkan mereka yang berjalan lebih cepat, bukankah kau dapat melihat lebih banyak hal dibanding orang berjalan lebih cepat darimu ? "
Well, sekian, saya mau packing duluuu~

Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates