Jumat, 14 Juni 2013
-Bandara A Yani, Semarang-
Seorang lelaki duduk di ruang tunggu bandara, disampingnya ada koper biru besar dengan tempelan sticker bermacam-macam, orang ini sendiri sibuk memainkan handphonenya, memencet tombol-tombol di handphone jadulnya sambil sesekali melihat papan besar dengan tulisan yang bergerak itu.
"Pesawat dengan nomor penerbangan NC 323 D177-200 tujuan Paris akan segera lepas landas, dimohon kepada para penumpang...." suara seorang perempuan menggema dari speaker di tiap sudut bandara, lelaki itu segera berdiri menarik pegangan koper beroda itu lalu menghilang dbalik kerumunan lalu lalang penumpang.
-Paris-
Wanita itu masih duduk disana, di pojok ruangan Cafe Lea masih asyik memandangi jendela yang baru saja dibasahi guyuran hujan. Sambil sesekali mengaduk Latte favoritnya, ia bersenandung gembira.
"Kau yakin dia kan datang hari ini ? Kau yakin ?" tibatiba saja lelaki kurus datang dan duduk dihadapannya. Lehernya berkalung syal loreng warna abu-abu, bajunya sedikit basah, mungkin dia barusaja menembus hujan yang masih enggan meninggalkan Paris dan menyisakan rintik-rintik.
"Tentu saja, dia sudah berjanji padaku. Aku bahkan telah menyiapkan kado untuknya. Kau lihat ini ? Aku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk kemudian memutuskan kado ini yang kupilih" kata wanita dengan sumringah, menunjuk kotak kecil berwarna biru muda dihias pita warna-warni.
Lelaki itu hanya tersenyum, sahabatnya ini telah hilang sebagian kewarasannya, bagaimana tidak ? Sebulan belakangan ini, dia tak henti-hentinya membicarakan lelaki yang dikenalnya lewat jejaring sosial. Dan kali ini lelaki itu akan datang menemuinya di Paris, jauh-jauh dari negara di tenggara Asia, yang entah nama negara itu susah untuk dilafalkan.
Tiba-tiba saja TV di Cafe itu menayangkan berita kecelakaan pesawat.
"Tuh lihat, disaat cuaca seperti ini, badai, angin kencang, berkabut, pesawat mana yang mau terbang dan mencelakakan penumpangnya ? Bodoh." lelaki kurus berkelakar lagi, wanita dihadapannya hanya geleng-geleng kepala namun merasa khawatir, pikirannya berkecamuk, " Apa dia baik-baik saja ?"
"Sean, seaan, seeeeaaaaaaan !" Lelaki itu meninggikan suaranya, ia menepuk tangan Sean berkali-kali, Sean yang banyak pikiran, sean yang tenggelam dalam lamunannya. Lelaki itu memikirkan banyak hal, "Seperti apa lelaki ini ? Mengapa dia begitu istimewa ? Mengapa ia sampai membuat Sean seperti ini ? Aku tak pernah melihat Sean seperti ini padaku"
***
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, beberapa waitress sibuk merapikan meja, membersihkan lantai, mengelap beberapa piring saji, Sean sendiri masih di tempat yang sama. Masih menunggu lelaki-dari-sosial-media itu. Bedanya kini tak ada lagi lelaki yang tadi ada dihadapannya. Dia sudah pergi karena mungkin mersa teracuhkan.
"Pardon, ma cherie, kami sudah mau tutup" kata si Alfredo, pemilik Cafe sambil menunjukkan angka di jam kulitnya.
"Oh, Oui, monsieur. Maaf merepotkanmu, lain kali saya kesini lagi ya, Bonne Nuit" Sean kemudian beranjak keluar dari Cafe dengan raut muka sendu. Ia tak bersemangat sama sekali.
"Hey, Sean. Kamu lupa kadomu !" Alfredo berteriak, mengangkat kado mungil itu
"Sudah, buang saja, aku tak membutuhkannya" sambil berlalu membuka payung dan merapatkan jaketnya, Sean pergi, ditemani rintik hujan yang rasanya sangat mengerti bahwa ia butuh ditemani, oleh suara rintik hujan, titik air jatuh dan lembutnya angin menerpa kulit.
"Kau pembohong ! Pembohong " katanya diamdiam dalam hati, tetes air mata jatuh berlinang, ia menutup payungnya, dan menengadah menatap langit kelabu, membiarkan tetes air matanya berbaur dengan hujan, melegakan perasaan kecewanya dan menahan umpatan lain yang mungkin lebih menyakitkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar